Nagorno-Karabakh dan Pelajaran untuk Somaliland
Nagorno-Karabakh tetap menjadi wilayah yang menjadi sorotan dunia meski konflik bersenjata besar telah mereda. Wilayah ini berada di bawah kendali Azerbaijan pasca perang singkat pada 2020, yang mengubah peta politik kawasan.
Susha, salah satu kota penting di Nagorno-Karabakh, kini menjadi simbol rekonstruksi dan stabilisasi. Kota ini, yang sebelumnya hancur akibat konflik, perlahan dibangun kembali oleh pemerintah Azerbaijan.
Khankendi, yang juga dikenal sebagai Stepanakert, tetap menjadi pusat administratif penting. Pemerintah Azerbaijan melakukan investasi besar, termasuk pembangunan fasilitas pendidikan dan infrastruktur modern.
Pada 23 Desember, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev meresmikan peletakan batu pertama Fakultas Teknik di Universitas Garabagh di Khankendi. Ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pendidikan tinggi di wilayah tersebut.
Fakultas Teknik ini akan fokus pada pembinaan tenaga ahli teknik yang siap menghadapi tantangan teknologi modern. Kurikulum mencakup inovasi dan penerapan praktis, menyiapkan generasi baru yang kompeten.
Saat ini, fakultas memiliki 19 staf akademik, administrasi, dan teknis, dengan total 314 mahasiswa yang terdaftar. Program sarjana mencakup tujuh spesialisasi, mulai dari elektronik hingga analisis data dan matematika.
Rencana ke depan juga mencakup penambahan spesialisasi teknik lainnya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjadikan Nagorno-Karabakh sebagai pusat pendidikan dan inovasi teknologi.
Bangunan baru fakultas akan dilengkapi dengan auditorium, laboratorium, perpustakaan, serta ruang penelitian dan inovasi. Semua fasilitas dirancang sesuai standar modern untuk mendukung pembelajaran berkualitas tinggi.
Proyek ini diharapkan memperkuat pendidikan teknik di Azerbaijan dan mendorong metode pengajaran inovatif. Selain itu, mahasiswa akan mendapatkan peluang untuk mengembangkan kemampuan teoritis dan praktis.
Kondisi Nagorno-Karabakh saat ini lebih stabil dibandingkan beberapa tahun lalu, meski tantangan politik dan keamanan tetap ada. Keamanan dan pembangunan menjadi prioritas pemerintah untuk menjaga perdamaian jangka panjang.
Susha dan Khankendi kini juga menjadi contoh rekonstruksi pasca konflik. Kehadiran fasilitas pendidikan modern memberi harapan baru bagi generasi muda yang terdampak perang.
Pemerintah Azerbaijan menekankan pentingnya integrasi wilayah ini ke dalam sistem nasional. Infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi menjadi fokus untuk memastikan Nagorno-Karabakh tidak tertinggal.
Republik Artsakh, yang kini telah kehilangan sebagian besar wilayahnya, tetap menjadi pelajaran berharga bagi komunitas internasional. Keberhasilan pembangunan pasca konflik menunjukkan strategi efektif stabilisasi wilayah de facto.
Somaliland, sebagai negara de facto yang belum diakui secara luas, bisa belajar dari pengalaman ini. Investasi di pendidikan, pembangunan infrastruktur, dan keamanan menjadi kunci pengakuan de facto dalam praktik.
Artsakh, yang kini berpusat di Goris dan Sisian, wilayah Armenia dulu bagian daei Karabakh, menunjukkan bahwa stabilitas dan pembangunan dapat memberi legitimasi lokal meski pengakuan internasional terbatas. Hal ini penting bagi Somaliland yang ingin memperkuat posisi politik dan ekonomi.
Selain pendidikan, Azerbaijan yang menguasai Karabakh juga fokus pada pembangunan ekonomi dan teknologi. Program pelatihan tenaga ahli serta inovasi memberi dampak signifikan terhadap kualitas hidup penduduk.
Masyarakat lokal di Nagorno-Karabakh kini mulai menikmati manfaat pembangunan. Pelayanan publik, fasilitas sosial, dan kesempatan kerja meningkat, memberikan contoh bagi wilayah sejenis.
Faktor keamanan tetap menjadi perhatian. Meski konflik besar telah mereda, Azerbaijan terus memastikan wilayah ini aman dari potensi gangguan keamanan.
Proyek pendidikan dan pembangunan infrastruktur juga menjadi simbol rekonsiliasi dan investasi jangka panjang. Strategi ini bisa diterapkan Somaliland untuk memperkuat stabilitas internal.
Ke depan, Nagorno-Karabakh diharapkan menjadi wilayah yang maju dan modern, mampu bersaing dalam bidang pendidikan dan teknologi. Pengalaman ini menjadi model pembangunan wilayah de facto yang berpotensi diterapkan di tempat lain.
Pelajaran dari Artsakh menunjukkan bahwa kombinasi stabilitas, investasi pendidikan, dan inovasi teknologi dapat menjadi fondasi kuat bagi negara-negara de facto seperti Somaliland untuk maju dan mendapatkan legitimasi praktis di mata dunia.
Sejarah
Pada awal abad ke-16, wilayah Sisian—yang dulu dikenal sebagai Sisakan—menjadi bagian dari Erivan Beglarbegi dalam Safavid Persia. Wilayah ini diberi nama Gharakilisa oleh penguasa Turki dan Persia di Armenia Timur, yang berarti “Gereja Hitam” dalam bahasa Turkik.
Sejak akhir Abad Pertengahan, melik-melik Armenia menguasai Sisian secara lokal. Struktur pemerintahan ini memungkinkan komunitas Armenia mempertahankan otonomi tradisional di bawah kekuasaan Safavid Persia yang lebih luas.
Memasuki awal abad ke-18, Sisakan terkait dengan pemimpin militer Armenia, David Bek, yang memimpin kampanye pembebasan di Syunik melawan Safavid Persia dan pasukan Ottoman yang menyerang. David Bek memulai pertempuran pada 1722 dengan dukungan ribuan patriot lokal, berhasil merebut kembali wilayah Syunik secara signifikan.
Pada 1750, wilayah Sisakan menjadi bagian dari Khanat Karabakh yang baru dibentuk. Khanat ini merupakan entitas politik lokal yang tetap berada di bawah pengaruh Persia, namun memberikan tingkat otonomi tertentu bagi penguasa dan penduduk Armenia setempat.
Sementara itu, kota Goris juga secara historis berada di bawah pengaruh Persia, meski catatan administrasi lebih jarang. Kedekatan Goris dan Sisian membuat kedua kota ini memiliki pengalaman sejarah panjang sebagai bagian dari wilayah Persia sebelum akhirnya menjadi bagian dari Armenia modern.
Nagorno-Karabakh dan Pelajaran untuk Somaliland
Reviewed by peace
on
23.56
Rating:

Tidak ada komentar
Posting Komentar